Review Impian
Dapat
tugas nge-review materi kelas online
bareng tamu penulis tentang kepenulisan dan penerbitan yang sengaja mbak Din
undang buat mampir ke empis- empis semalam…deg-degan juga ni, tapi itung- itung
review buat diriku sendiri yang semalam ketiduran karena beberapa hari ini
terlalu sibuk mempersiapkan Ujol, jadi dapat manfaat juga…hehehe.
Namanya
mba Impian Nopitasari, penulis muda berbakat, cerpenis (penulis cerpen
berbahasa Indonesia) dan juga cerkakis (penulis cerpen berbahasa Jawa). Nama
tersebut ternyata nama asli lo, bukan nama pena, dilihat dari namanya saja
sudah terlihat unik kan, sudah menjual banget, biasa dipanggil Imp, dream,
kadang juga sayang, hehehe. Asli dari negara bagian Grobogan, tetapi tinggal
lama di Surakarta Hadiningrat. Mba Imp ini seorang Penulis blog Palugada Juga
Mojok, pernah mengisi rubrik berbalas fiksi 10 babak duet sama Artie di Mojok.
Kenapa
mba imp memilih menulis? katanya karena bisanya cuma itu, lebih tepatnya
buat terapi, semacam ada kelegaan setelah menulis. Memang benar sih, menulis
bisa dijadikan sebagai terapi penyembuh salah satunya. Sebelum marak dunia
medsos ternyata mba Imp dahulunya suka berkorespondensi, angkatan perangko,
jadi ingat jargon nempel kaya perangko…hihihi, angkatan berapa itu ya?
Menulis
tergantung motivasi masing- masing, mau menulis full time ataupun part time. Buat
mba imp sendiri menulis hanya sebagai sampingan, bukan sebagai penghasilan
utama, kalau dapat uang ya bonus, enggak full time writer. Yang penting bisa
ngeluarin uneg-uneg lewat menulis saat moody, kalau lagi ingin menulis ya
tinggal tulis, Cuma satu dua kali mengejar deadline,
bukan tipe yang mengejar lomba banget, iso
dilakoni ora yow is, hehehe…setipe mba Sanie B. Kuncoro (Penuilis senior
yang tinggal di Solo) setipe juga dengan aku yang masih kroco ini, nulisnya
tergantung moody, hahaha.
Mba
imp dahulu awalnya berangkat dari cerpenis tetapi makin ke sini lebih dikenal
sebagai penulis cerkak. Dalam menulis yang penting fokus. Menulis cerpen maupun
cerkak tantangannya berbeda, tidak semua ide cerita bisa dicerpenkan atau
dicerkakkan. Jadi ada cerita yang lebih enak kalau pakai bahasa Jawa, ada yang
lebih enak pakai bahasa Indonesia. Tergantung ruh-nya di mana. Kalau yang enggak
biasa baca bahasa tulis Jawa emang rada kesusahan tapi nek wis biasa ya penak. Cerkaknya sendiri enggak jauh-jauh dari
tema sehari-hari, mungkin itu yang bikin orang suka. Soal kenapa bisa bikin
yang baca terhanyut mungkin karena nulisnya empiris, pengalaman sendiri. Jadi
mba imp bukan tipe yang terlalu surealis atau ngawang-awang banget. Nulisnya pakai
hati, pasti kena juga di hati.
Dan
berikut adalah hasil rangkuman dari beberapa pertanyaan empisers terhadap mba
Imp.
Mbak
Impian sebelum jadi penulis, ternyata tidak mempunyai impian jadi penulis.
Menulis hanya untuk kepuasan saja, untuk terapi mengeluarkan unek- unek tadi,
kalau akhirnya jadi penulis, itu bonusnya.
Untuk
Pengalaman menulis di mojok, tulisan berhasil masuk kesana karena tawaran
langsung (link itu penting), jadi setahun lalu pas puasa-puasa begini, mba Imp sebulan
penuh nulis buat Mojok. Bahkan malam lebaran masih harus nulis ending.
Memorable banget padahal di rumah lagi repot tapi seneng banget katanya, dapat
THR juga, lumayan lah ya. Oh ya Mojok kan lebih dikenal dengan esainya. Nah
sebenarnya tulisan mba Imp itu bukan tipenya Mojok, mungkin bisa menulis lucu
dan ber-punch line kalau menulis status,
cuma bukan lucu tipe Mojok. Ya walau tulisan di Mojok ya gak harus lucu juga
sih.
Dialek
yang sering digunakan mba Imp saat menulis cerkak bermacam- macam,
tergantung cerita. Karena mba Imp lahir dan besar di Grobogan (masuk kultur
pantura) dan tinggal di Solo. Untuk narasinya mataraman, diksinya campur, ada
dialeknya dalam dialog, kadang dialek campur panturaban juga, apapun dialek itu
sah-sah saja. Komunitas mba Imp baru saja mengeluarkan buku 35 cerkak yang
isinya dialek berbagai macam, dari Cerbonan sampai Using Banyuwangi, jadi Jawa
tidak hanya Solo-Yogya. Semua bisa menulis cerkak, asal sregep baca tulisan
berbahasa Jawa insya Allah bisa, tinggal dilatih. Prinsipnya seperti menulis
cerpen kok, cuma beda di bahasa saja.
Mba
Imp ini sudah suka menulis sedari kecil ternyata, sejak TK sudah bisa baca buku.
SD sudah suka gunting-gunting buku buat jadi majalah dan dikasih nama Relix,
sejak kecil memang sudah kreatif ternyata. Pas SMA mulai menulis buat media dan
tembus majalah Teen, menulis di Hidayah juga.
Sebagai
cerpenis tips jitu biar tulisan menjadi cetar
buat pemula yang paling wajib banget itu kalau mau menulis ya sregep baca,
karena banyak yang ingin banget menulis tetapi malas baca, ya enggak mungkin
tulisannya berisi. Nah catat…
Yang
kedua: riset, misal di cerpennya yang Bukan Pring Sedhapur (bisa dicari di
google) itu konfliknya cuma cewek yang dikhianati cowok. Tapi kalau Cuma
seperti itu saja kan hambar karena hampir semua mengalami. Jadi mba imp membawa
ke konflik juragan batik-bangsawan. Mba Imp mulai belajar filosofi batik, konflik
kerajaan, dsbnya, sampai riset sejarah Laweyan sambil jalan-jalan ke sana mengamati bangunannya, mengobrol sama orang
situ. Kalau ceritanya punya pengalaman empiris lebih cetar pasti karena dapat ruhnya, misal patah hati beneran, itu bisa
terasa banget. Tulisan yang bagus pasti ya bahannya gak gampang. Jadi yang
ngremehin menulis fiksi itu cuma ngarang-ngarang saja, wow mengajak geger itu,
hehehe. Enggak gampang kan jadi penulis, butuh baca, riset, dll.
Biar
PD ngirim tulisan kata mba Imp PD itu harus, tapi kudu tahu diri juga, sesuaikan dengan karakter medianya, ini
wajib, jadi jangan salah kirim. Langkah yang bijak untuk pemula, misal menulis
pada 3 tempat Blog, Fb dan Ig atau langsung ke Mojok, seperti seorang penjual
online. Kadang bisa dapat rezeki dari jualan yang diposting, ada yang laris
manis di Fb, suram di Ig atau ramai di Wa sepi di Fb, itu perumpamaanya. Misal,
di detik itu redakturnya lebih suka cerpen yang enggak aneh-aneh, enggak
terlalu surealis, yang personal, ya jangan kirim yang di luar kriteria.
Terus
yakin saja kalau tulisannya sudah apik tinggal kirim. Sebelumnya bisa juga
disuruh nge-proof teman dahulu. Kalau sudah bagus semua secara isi dan teknis, PD saja buat kirim. Diterima atau
ditolak kan cuma kemungkinan, paling enggak sudah mencoba, tapi ya pastikan
tulisanmu layak dibaca redaktur. Intinya kalau mau mengobrol sama orang kan
biasannya kita tahu karanter orang itu seperti apa, sama sih kayak mau kirim
naskah. Kenali tulisannya dahulu, lebih masuk ke platform mana. Misal kalau
sesuai karakter Mojok ya kirim saja, kan seperti kita bikin konten di FB, IG,
dan Twitter itu juga beda style-nya. Kalau mau latihan mungkin bisa tulis status
yang panjang gitu. Lihat responnya seperti apa, dan terus belajar dari yang
sudah bisa.
Ada
yang bilang, menjadi penulis itu harus memiliki "waktu yang kejam dalam
menulis" Menurut mba Imp seperti itu juga boleh, menargetkan diri sendiri
biar disiplin. Kalau mba Imp sendiri mengaku orangnya slow. Kalau lagi butuh baca ya baca, kalau sudah terisi ide
biasannya langsung tulis. Nanti kalau sudah merasa kosong lagi ya baca dan
jalan-jalan, atau mendengar curhat orang. Untuk waktu kejam tentukan saja
sendiri, pokoknya yang wajib ya tadi itu, baca buku.
Saat
menulis cerpen pun kata mba Imp terkadang ada juga kesulitan. Kesulitannya
kalau temanya di luar yang kita kuasai, kurang riset, atau kalau ada syarat
pembatasan karakter. Misal syaratnya 6000 karakter eh nulisnya sampai 10000
karakter, ya bagaimana caranya memotongnya tanpa kehilangan isinya, dan penulis
harus bisa itu.
Oya,
dalam waktu dekat ini mbak Impian akan meluncurkan satu buku terbarunya yaitu:
dongeng bocah bahasa Jawa: Si Jlitheng. Sebuah buku cerita bergambar
menggunakan bahasa Jawa. Ini bisa jadi bahan belajar kita untuk belajar
menulis, juga bisa jadi bacaan yang bergizi untuk anak anak.
Kalau
untuk buku mba Imp termasuk sing mikire
suwe. Jadi punya buku harus bagus walau lama jadinya enggak apa- apa, yang
penting isinya bagus.
Buku
pertamanya cerkak Kembang Pasren, masih bisa didapatkan di penerbit
Garudhawaca. Ada di marketplace atau WA yang punya langsung.
Yang
kedua masih PO, si Jlitheng buku dongeng 4 cerita fabel dengan full ilustrasi
warna. Ilustratornya juga sudah insternasional. Bisa dilihat di IGnya
kecelakaanwarna. Mungkin ada yang butuh referensi illustrator, bukunya SDD juga
dia yang garap. Pokoknya kalau ngomong behind
the scene buku ini mantap sekali, bikinnya
tiga tahun, diperuntukan buat anak SD kelas 4-6, tetapi kelas 3 mungkin
sudah paham, bukan buku balita tetapi kalau untuk gambarnya sudah masuk,
tinggal orang tua yang mendongengkan.
Untuk
menulis cerkak semua bisa kok, tergantung jam terbang, asal mau membaca sama
latihan terus, beberapa teman mba Imp yang berangkat dari cerpenis, kini
menulis cerkak juga seperti Mbak Indah Darmastuti, Mbak Yessita. Dahulu mereka
sebelum kenal mba Imp belum pernah menulis cerita dalam bahasa Jawa, tetapi ternyata
sekarang bisa juga.
Tipsnya empiris saja enggak cukup, otak tetap harus diisi dengan referensi riset. Salah
satunya dengan membaca, jadi biar tahu bahasa tulis itu seperti apa.
Nah
kesimpulannya bagi penulis pemula atau yang ingin belajar menulis adalah :
- Ide menulis bisa dari mana saja, tetapi menulis berdasarkan pengalaman sendiri tentu akan lebih mudah dalam menghadirkan nyawa ke dalam tulisan tersebut.
- Penting untuk melakukan riset tentang apa yang kita tulis agar isinya lebih real, bukan sekadar omong kosong.
- Writer’s block atau pikiran buntu bisa dipastikan karena kurang referensi, inilah pentingnya membaca bagi penulis, untuk memunculkan ide dan menambah kosa kata.
- Banyak latihan perlu untuk membuahkan hasil, karena penulis butuh jam terbang dalam mengasah serta melancarkan kemampuannya saat menulis.
- Untuk mengirimkan tulisan kenali dahulu medianya, sesuaikan dengan karakter tulisan yang ada, kemana cocoknya tulisan tersebut dikirim. Kalau merasa tulisan sudah benar, sudah dikoreksi, tinggal kirim ke media yang ingin dituju, sesuai dengan karakter tulisan tentunya.
Beberapa tips buat penulis pemula untuk belajar menulis agar tulisan lebih bernyawa, dibagikan langsung oleh mba Impian dalam obrolan online, perlu untuk dibaca!
BalasHapus